Bisnisia.id | Takengon – Fluktuasi Harga kopi arabika diprediksi masih terjadi, meskipun ada optimisme dari pelaku kopi harga akan semakin menanjak naik di tahun ini, berdasarkan pergerakan pasar global yang menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun seiring dengan peningkatan permintaan konsumen dan kondisi iklim yang semakin ekstrem. Kondisi ini disebut akan berpengaruh ke pasokan kopi dunia, terutama dengan adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Faktor cuaca ekstrem yang terjadi sejak akhir tahun 2023 memperburuk kondisi produksi perkebunan kopi di Brazil dan Kolombia, begitu juga negara penghasil utama kopi arabika lainnya, begitu juga dengan kondisi curah hujan yang tinggi serta badai angin yang tidak terduga merusak banyak perkebunan kopi, mengakibatkan produksi menurun drastis.
Merujuk data dari Organisasi Kopi Internasional (ICO) produksi kopi arabika global turun lebih dari 15% pada tahun 2024 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara permintaan kopi specialty meningkat lebih dari 20% di dua tahun terakhir, artinya produksi tidak mampu mengimbangi peningkatan ini.
Khusus untuk harga kopi arabika Gayo saat ini masih tinggi di pasaran dunia. Pada pertengahan Desember 2024 tahun lalu, Harga kopi arabika mentah melonjak hingga US$ 3,44 per pon. Untuk diketahui 1 pon sama dengan 0,45 kg sehingga dengan harga US$ 3,44 per pon setara US$ 7,58 / kilogram.
Sementara untuk per 24 Januari 2025 berdasarkan situs https://www.barchart.co harga kopi Arabika berjangka di ICE Futures New York untuk kontrak Maret 2025 (KCH25) ditutup pada $3,60 per pon.
Harga kopi berjangka adalah harga yang disepakati dalam kontrak berjangka (futures contract) untuk membeli atau menjual kopi dalam jumlah tertentu, pada kualitas tertentu, dan dengan waktu pengiriman yang telah ditentukan di masa depan.

Peningkatan volume dan nilai Ekspor Kopi Gayo menunjukan peningkatan meskipun sempat menurun saat pandemi. Kopi Gayo memiliki posisi tawar yang kuat di pasar global, dengan pengakuan sebagai produk Indikasi Geografis dan berbagai sertifikasi internasional. Pada Oktober 2024, kopi arabika Gayo meraih peringkat pertama dalam daftar biji kopi terbaik di Asia versi TasteAtlas, mengungguli kopi-kopi terkenal lainnya. Untuk kopi specialty Gayo memiliki keunikan tersendiri yang menjadi incaran penikmat kopi dunia.
Prediksi Ditengah Fluktuasi Harga
Eksportir dan pemerhati kopi Gayo, Armiyadi kepada Bisnisia.id mengungkapkan informasi kenaikan harga kopi sebenarnya telah dimulai tiga tahun yang lalu. “Tapi kalau menurut saya, kalau kita lihat kopi cenderung turun yang terjadi sekarang, kenapa? Karena dasar kenaikan harga kopi sebelumnya adalah bahwa Brazil kena prost 30% kebun kopinya rusak. Itu tahun 2021, sekarang sudah pulih. Jadi kemungkinan terganggu kopi Brazil itu tidak ada, karena tidak ada bencana yang menimpa Brazil walaupun ada hujan-hujan es lokal kecil, karena jumlah populasi perkebunan Brazil tersebut kurang lebih 2,5 juta hektare”ungkapnya.

Selain itu, kata Armiyadi, setelah naiknya kopi Arabika dua tahun yang lalu, kopi Robusta juga naik di tahun 2024 yang paling tinggi, Kenapa? Itu juga punya alasan karena penghasil nomor dua kopi dunia Vietnam mengalami kekeringan, Nah sekarang disana sudah hujan dan kemungkinan hasil panennya bagus. Seperti saya juga ke Vietnam 2024 Hasil kopi mereka itu bagus. Seperti Gayo yang saat ini juga kita lihat bahwa hasil lumayan banyak”jelasnya lagi.
Menurut Armiyadi, hal lain yang mungkin menyebabkan harga kurang kondusif, ketidakpastian ekonomi yang justru di tahun 2024-2025 yang menyebabkan harga komunitas itu tidak stabil Karena kebijakan politik. Contohnya seperti pelantikan Presiden Amerika Donald Trump yang sangat agresif.
“ Ini yang menjadi kekhawatiran justru di dunia pada saat ini. Jadi bicaranya bukan masalah seperti dua atau tahun yang lalu, yang lalu adalah sumbernya rusak Jadi sumber kopinya rusak Vietnam dan Brazil sekarang sudah membaik” katanya.
“Sebenarnya ada beberapa faktor yang harus diukur, seperti negara penghasil kopi dunia itu seperti apa keadaannya?Jika itu terganggu maka suplainya akan terganggu. Sementara itu, pertumbuhan pasar baru di China yang banyak menyerap, tahun lalu sudah banyak membeli kopi dan sekarang stabil posisinya”jelasnya.
Menurutnya, kenaikan ini belum bisa ia prediksi atau masih fluktuatif bahkan ada kemungkinan penurunan, Entah terjadi dua bulan atau tiga bulan lagi. “Kita tidak tahu seperti apa karena juga sangat tergantung pada kebijakan ekonomi yang saat ini perang dan posisi Presiden Trump sebagai presiden yang sangat agresif ” ungkapnya.
Berdasarkan riset Business Monitor International (BMI) yang terafiliasi dengan Fitch Group menyebutkan tingkat konsentrasi pasar yang tinggi hanya terjadi di dua negara penghasil, Vietnam dan Brasil, yang membuat harga kopi rentan terhadap fluktuasi. Selama lima musim terakhir, Brasil telah menyumbang 45,5% dari produksi kopi arabika dunia dan 37,3% dari total produksi kopi dunia yaitu, arabika dan robusta. Selama periode yang sama, sektor kopi Vietnam mewakili 38,6% dari produksi kopi robusta dunia. Singkatnya, kedua pasar tersebut mewakili 54,9% dari total produksi kopi global.
Besarnya kontribusi Vietnam dan Brasil dalam pasar kopi global membuat perkembangan di dua negara tersebut berimbas terhadap fluktuasi harga kopi. Tiga faktor di antaranya ialah wabah penyakit, kondisi cuaca buruk, dan tingkat investasi.
Dalam risetnya, BMI mengungkap bahwa ke depan akan terjadi peningkatan surplus produksi kopi global. “Dari 3,7 juta ton pada musim 2023/2024 menjadi 4,4 juta ton pada `musim 2024/2025, meskipun mereka mencatat bahwa ini lebih kecil dari yang diantisipasi sebelumnya. Disebutkan Selama musim lalu, kondisi cuaca yang tidak menguntungkan di Vietnam telah membebani panen kopi robusta domestik, dengan harga kopi robusta berjangka yang terdaftar di ICE meningkat sebesar 73,9% antara 2 Januari 2024 dan 31 Desember 2024.

Melihat ke Vietnam dan Brasil khususnya, riset BMI memperkirakan produksi akan turun sebesar 8,0% YoY di Vietnam, dan hanya meningkat sebesar 0,8% YoY di Brasil. Hasil riset ini mencatat, melihat ke depan pada 2025/2026, akan menjadi panen di luar musim untuk kopi arabika di Brasil. Sentimen bullish yakni sentimen pasar yang menggambarkan pasar akan naik masih ada di pasar, dengan memperkirakan harga akan turun sepanjang 2025, diyakini rata-rata akan berada di bawah rekor harga yang dicapai pada Desember 2024.
Tantangan untuk Pelaku Kopi Gayo
Bagi pelaku industri kopi, baik itu petani, eksportir, atau pengusaha kopi, penyesuaian strategi bisnis mereka dengan dinamika pasar yang sedang berkembang ini mau tidak mau harus dilakukan. Terutama bagi pelaku kopi Gayo yang telah mempunyai “nama” di pasar global.
Pengamat Ekonomi di Bener Meriah Zulfikar Ahmad kepada Bisnisia.id mengungkapkan salah satu tantangan adalah menyempitnya lahan untuk pertanian kopi terutama di kawasan Aceh Tengah dan Bener Meriah yang merupakan kawasan sentra kopi arabika Gayo. Dengan luas lahan yang terbatas dan kepemilikan rata-rata hanya sekitar 0,8 hektar berkepala keluarga, perjuangan para petani dalam mengelola kebun kopi menjadi semakin berat ditengah pertumbuhan penduduk dan kebutuhan akan infrastruktur.
Tak hanya soal lahan, berdasarkan data BPS 2023, disebutkan hanya sepertiga dari petani di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang berusia antara 19 hingga 39 tahun. Sementara, mayoritas petani telah berusia di atas 39 tahun. Data ini menunjukkan bahwa minat generasi muda untuk melanjutkan usaha budidaya kopi semakin menurun, menurutnya tren ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
“Pertanyaan yang paling penting kalau dulu ada kebijakan-kebijakan yang mengubah arah perdagangan kopi jadi lebih baik, apakah pemerintah saat ini mampu mengantisipasi tantangan dimasa yang akan datang?” ujar Zulfikar Ahmad.
Keterbatasan akses ke teknologi dan pendanaan juga menjadi tantangan yang dihadapi petani kopi Gayo selain dari keterbatasan infrastruktur seperti jalan yang rusak dan kurangnya fasilitas penyimpanan, dapat mempengaruhi distribusi dan kualitas kopi. Termasuk perubahan iklim global menjadi tantangan yang berdampak pada jumlah hasil panen.
Selain tantangan tadi, sejumlah pakar dan pengamat juga menyebutkan dengan masuknya Indonesia dalam block Ekonomi BRICS dan adanya ancaman presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump, untuk mengenakan tarif 100 persen bagi negara-negara yang tergabung yang Indonesia salah satu anggotanya, dikhawatirkan akan berdampak terhadap eksport kopi.
Sebagaimana diketahui AS menjadi negara tujuan ekspor Kopi Arabika Gayo terbesar. Secara global, Indonesia termasuk dalam empat besar negara pengekspor kopi terbesar di dunia. Kalau AS serius memberlakukan ancaman ini, dan Indonesia terkena, artinya kopi terutama kopi arabika Gayo akan sangat mahal di AS. Lalu, apakah ekspor kopi akan meningkat nilainya atau pasarnya akan berkurang?
Sementara itu, disisi lain Inovasi dalam teknik budidaya, peningkatan kualitas produk dan strategi pemasaran yang efektif menjadi tantangan krusial yang harus dijawab. Tidak hanya oleh pelaku kopi tapi juga pemerintah Daerah untuk tetap mempertahankan posisi kopi Gayo di pasar dunia.